Dekat Desa Batuan, Penghasil Lukisan Tradisional di Bali

Pulau Dewata Bali memang dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya yang tiada duanya. Perpaduan antara kehidupan budaya tradisional penduduk lokal yang harmonis bersandingan dengan modernisasi yang dibawa oleh wisatawan menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun Bali selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari luar daerah baik domestik ataupun asing, nyatanya budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat masih terjaga hingga sekarang.

Bukannya menghilang ditelan zaman, budaya masyarakat Bali pada faktanya justru menjadi komoditas wisata yang digemari oleh para wisatawan. Di Bali kita bisa menemukan banyak tempat wisata yang penduduknya masih setia dengan budaya warisan leluhur seperti Desa Batuan misalnya.

Di desa tersebut Anda akan menemukan seniman-seniman hebat yang sangat ahli dalam membuat lukisan tradisional khas Bali.  Apa sebenarnya yang membedakan lukisan tradisional dari Desa Baturan dengan lukisan dari daerah lainnya? Simak penjelasannya berikut ini.

Mengenal Lukisan Tradisional Khas Bali dari Desa Batuan

Lukisan dengan Tema Cerita Rakyat

Salah satu hal yang membuat lukisan dari Desa Batuan berbeda dengan lukisan lainnya adalah tema yang diangkat. Lukisan yang dibuat oleh seniman dari desa tersebut biasanya mengangkat tema cerita rakyat yang ada di Bali seperti Rajapala, Tantri dan Calon Arang. Selain bertema cerita rakyat, para seniman lukis juga sering menggunakan cerita kisah Ramayana dan Mahabarata sebagai tema lukisannya.

lukisan desa batuan

Menggunakan Teknik Tradisional

Para seniman Desa Batuan tidak sembarangan dalam mengerjakan lukisannya. Tidak dengan cara yang sama dengan pelukis pada umumnya mereka masih menggunakan cara tradisional dalam membuat lukisan. Penggunaan teknik tradisional tersebut yang akan menjadi semacam penanda bahwa lukisan tersebut dibuat oleh seniman asal Desa Batuan.

6 Tahap dalam Melukis

Untuk bisa menghasilkan lukisan tradisional khas Desa Batuan, terdapat 6 tahapan yang harus dilakukan. Tahapan tersebut antara lain sebagai berikut.
Tahap 1 : nyeket yaitu membuat sketsa awal yang nantinya akan dijadikan sebagai lukisan.
Tahap 2 : nyawi adalah tahapan untuk memperjelas sketsa.
Tahap 3 : nyigar, yaitu teknik untuk memperkuat warna hitam dan warna putih dalam lukisan.
Tahap 4 : membuat motif yang akan dituangkan ke dalam lukisan.
Tahap 5 : ngasir adalah tahapan untuk menonjolkan dan meredupkan gambar dalam lukisan agar terlihat harmonis dan indah.
Tahap 6 : pemberian warna pada bagian lukisan yang memang diperlukan.

Filosofi dalam Lukisan

Masyarakat lokal Bali memang dikenal memiliki filosofi tinggi dalam menjalani kehidupannya. Begitupun dalam membuat lukisan tradisional khas Desa Batuan tersebut. Ada 2 konsep dasar yang menjadi filosofi dalam pembuatan lukisan khas Batuan, yaitu :

  • Rwa Bhineda yaitu wujud dari alam semesta dan seisinya yang tersusun dari dua hal berbeda namun saling melengkapi, misalnya terang dan gelap, pria dan wanita.
  • Tri Hita Karana yang terdiri dari hubungan manusia dan Tuhan (Parhyangan), hubungan sesama manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan lingkungannya (Pelemahan). Ketiga bentuk hubungan tersebut berlangsung secara harmonis.
pelukis desa batuan

Museum Batuan

Dengan semakin terkenalnya Bali membawa dampak yang baik pada seni lukis tradisional Batuan yang menjelma menjadi karya seni bernilai ekonomi tinggi. Banyak turis manca yang tertarik dan membeli lukisan Batuan dengan harga mahal. Hal itulah yang melatarbelakangi didirikannya Museum Seni Batuan oleh seorang tokoh lokal bernama I Dewa Gede Sahadewa. Selain digunakan untuk galeri lebih dari 800 lukisan khas Batuan, museum tersebut juga memajang barong dan topeng khas Bali. Ini yang membuat desa Batuan menjadi salah satu tempat tujuan wisata di Bali.

Lokasi Desa Batuan